Jumat, 10 Juni 2016

HAL YANG GAGAL KUPENDAM

Saya berencana memulai tulisan ini dengan diksi yang biasa, tanpa mencoba mengakhirinya.

Belakangan, saya sering terserang beberapa penyakit ringan semisal, flu, demam, dan terakhir yang membuat ibu menjadi cemas adalah batuk. Seperti jatuh cinta dan patah hati, batuk selalu susah disembunyikan. Menyiksa dan menyesakkan, setidaknya. Cengeng! Semoga kau tidak ikut mengklaimku demikian. Kau pasti tahu, bagian paling puitik dari seorang ibu adalah ketika anaknya sakit; kau akan menemui sisi keromantisan wajah ibumu yang rela berbohong demi agar  kau luluh dan mau ke dokter, paling tidak meminum obat warung. Bagian ini, saya jadi teringat mantan kekasih saya yang sialan sekali karena lebih deluan moveon. Dia juga pandai berbohong dan kau pasti bisa menebak kenapa kami akhirnya memilih berpisah -ya, kebohongan terakhirnya tak lagi menyimpan sisi romantis, paling tidak itu menurutku. Berbeda dengan wajah ibu, yang selalu romantis meski sedang berbohong; ibu pernah minum obat itu dan membaik (padahal seingatku, ibu tak suka minum obat warung apalagi ke dokter saat sakit ringan), misalnya.

Sudah dua malam saya mengungsi ke tempat tidur ibu, dan tentu saja, bapak selalu tak keberatan mengalah. Saya hanya tak tega, melihat ibu yang selalu diam-diam membuka pintu kamar saat tengah malam hanya untuk memastikan suhu badan saya tetap normal. Yang paling dramatis, ibu akan selalu memperhatikan frekuensi dada dan perut anak-anaknya saat tertidur. Saya paham, ibu mencemaskan banyak hal yang tidak akan pernah cukup untuk saya pahami sebagai seorang anak. Ibu saya memang perempuan yang lugu. Di bibirnya, kata-kata yang mengada-ngada sering lepas, namun saat anak-anaknya sakit, bibir ibu akan menjadi ladang doa sederhana yang selalu ingin kubalas dengan berpuluh kebahagian kelak. Saya ingin menangis menulis bagian ini, semoga kau selalu bahagia, ibu.

Saya khawatir kau akan menuduhku "sakit-sakitan" jika pada akhirnya tulisan ini hanya bercerita tentang keadaanku yang semakin jarang kemana-mana karena sakit, atau karena tak ada alasan untuk keluar rumah dan pulang malam karena kesibukan organisasi lagi. Menjadi dewasa sungguh butuh kesiapan; siap kesepian dan ditinggalkan, setidaknya. Saya belajar hal itu dari ibu, tentu saja. "Kesiapan pasangan hidup juga termaksud gak, yah!? Hahah..." Saya akhirnya menahan kata-kata itu agar tak tiba di telinga ibu, sebab tanpa perlu menjawab, saya sudah bisa menebak isi kepala ibu saya. Ibu orang tua normal, yang tentu saja akan bahagia jika putrinya sudah punya bahu yang lain untuk bersandar. Kami sudah sering membincangkan ini, dan jelas ibu tahu saya akan merespon dengan guyonan yang menghilangkan sisi horor topik (dibaca serius) ini bagi saya, namun tidak bagi ibu barangkali.

Kau tahu, sebenarnya bagian terbesar dari tulisan yang kutulis dan semoga kau baca ini adalah selain tentang ibuku yang berhati malaikat (ibumu juga pasti berhati malaikat), adalah tentang rasa rinduku (yang sudah tidak tahu bagaimana lagi bentuknya sekarang). Kadang, diam yang cukup panjang membuat banyak hal menjadi tenang, tapi tidak dengan rindu. Saya tahu kau pasti tak bodoh dalam hal ini. Saya lupa, sudah berapa jeda yang sengaja kita buat. Saya memilih meletakkan namamu di sela-sela doa, agar cukuplah Tuhan yang tahu cara menyembuhkan hatimu dari rasa khianat. Seperti, cukuplah hanya cangkir kopi yang tahu, berapa kali kau sanggup menengguk kopi hingga tandas. Perumpamaan yang rancu, bukan? Semoga kau tertawa. Setidaknya kau tahu, kekasihmu banyak berubah sekarang. Ia tak lagi pandai membuatmu jatuh cinta dengan puisi-puisinya. Ia sudah dewasa, anggaplah begitu saja. Anggaplah, ia dewasa dan semakin tak tahu cara orang dewasa saling merindukan.

Saya tahu... eemmm... bukan. Maksud saya, saya pura-pura merasa tahu rasa pedulimu yang berubah menjadi kecemasan. Dibagian ini, saya sungguh bingung bagaimana menuliskannya. Saya pahami, selalu ada hal sulit yang berupaya untuk kita akhiri, namun tak pernah betul-betul berhasil dan tak betul-betul gagal; rindu,-


Juni, 2016

Template by:
Free Blog Templates