Rabu, 19 Oktober 2016

Teachers' Diary

KAU INGIN MENJADI APA?


Siang tadi seorang siswa menghampiriku. Siswa yang cukup bandel berdasarkan versi guru-guru lainnya. Aku tersenyum ke arahnya, ia lalu duduk di sebelahku. 

" Ibu guru?" tanyanya tiba-tiba. Aku terkejut, namun masih sempat melempar senyum padanya.

"Tentu saja. Kenapa, nak?" ( Aku mengajar siswa SMA, untuk menghindar dari godaan siswa, aku bersedia disapa ibu, meski ini membuat kesan tua untukku).

"Kalau yang biasa PPL di sini juga guru, bu?"

"Tentu saja!"  Aku menjawab mantap, meski sebenarnya diliputi penasaran. Aku menerka arah pembicaraan kami.

"Setelah PPL di sini, mereka mengajar di mana lagi, bu?"

"Mereka kembali ke kampus untuk menyelesaikan kuliahnya."

"Berarti mereka belum menjadi guru dong, bu." Aku tersenyum mendengar jawabannya. Bel pergantian jam pelajaran belum juga berbunyi. Siswa-siswi lain masih asik memainkan dasinya. Maksudku, mereka bermain tembak-tembak dasi, ini serupa bermain ketapel dengan menggunakan dasi. Cukup riuh. Kuberi sedikit jenak untuk menjawab pertanyaan siswaku tadi.

"Selama di sekolah, mahasiswa PPL bikin apa saja?" tanyaku. Ia sedikit heran, lalu berupaya menjelaskan.

"Yah, mengajar, bu. Mereka menjelaskan seperti materi pelajaran, memberi tugas, memberi PR, mengabsen, menilai, ulangan, dan kadang-kadang bercanda"

"Apa bedanya sama ibu?"

Mmm... Dia mulai terdiam, barangkali sedang memikirkan perkataanku.

"Mereka PPL, secara status mereka masih mahasiswa. Setelah praktik, mereka kembali ke kampus untuk menyelesaikan tugas mereka yang lain sebelum akhirnya wisuda. Seperti kalian, mereka juga diberi nilai saat PPL. Seperti ibu, mereka memberi kalian penilaian. Mereka juga guru, karena sudah mau berbagi ilmunya. Bagi ibu, setiap orang yang mau berbagi ilmu, pengalaman, dan pengetahuan baru adalah guru; orang tua, teman, sahabat, musuh, mantan kekasih, bahkan kalian." Ekspresinya mulai berubah. Beberapa siswa lain ikut menjadi pendengar.

"Kenapa ada mantan kekasih, bu? Hahaha..." tawa seorang siswa lepas. Menjelaskan hal yang cukup berat kepada siswa yang masih dalam pencarian jati dirinya tak boleh terlalu serius, pikirku. Mereka akan bosan dan hanya pura-pura mengerti.

" Ya, iya. Dari mantan kekasih kalian belajar caranya "move on" setelah kehilangan. Kalian mulai belajar melihat lebarnya dunia -yang selama ini kalian pikir milik berdua-, lalu kalian belajar untuk membuat tempat baru untuk orang yang lebih siap menempatinya."

"Ikkhh, i agree, bu. Kita memang harus move on dari rasa patah hati." kali ini, salah seorang siswiku yang ikut menyahut. Aku merasa, poin penting yang ia tangkap hanya perihal jatuh cinta dan patah hati saja. Dasarrr, bocahh! (Gumam hatiku).

"Apa cita-citamu, nak? Maksud ibu, kau ingin jadi apa nantinya?" Ia kembali diam. Memberi jenak sebelum akhirnya menjawab "tidak tahu".

"Pikirkan, kau ingin menjadi apa kelak. Ingat, rumah yang kokoh dimulai dari pondasi yang kuat. Kau masih muda, masih punya waktu untuk berpikir matang atas masa depanmu kelak. Bangun pondasimu pelan-pelan, agar kelak kau tak kewalahan saat membangun rumah cita-citamu." Sontak mereka diam, dari ekspresinya seperti sedang berpikir berat. Aku diam, dalam hati tersenyum.

"Bu, aku mau menjadi guru."

Aku tersenyum beriring bunyi bel pertanda pergantian pelajaran. Sekitar tujuh tahun lalu, di bangku putih abu-abu yang berbeda guruku berkata, kau punya bakat menjadi pendidik, nak..




Teachers' Diary

KAU INGIN MENJADI APA?


Siang tadi seorang siswa menghampiriku. Siswa yang cukup bandel berdasarkan versi guru-guru lainnya. Aku tersenyum ke arahnya, ia lalu duduk di sebelahku. 

" Ibu guru?" tanyanya tiba-tiba. Aku terkejut, namun masih sempat melempar senyum padanya.

"Tentu saja. Kenapa, nak?" ( Aku mengajar siswa SMA, untuk menghindar dari godaan siswa, aku bersedia disapa ibu, meski ini membuat kesan tua untukku).

"Kalau yang biasa PPL di sini juga guru, bu?"

"Tentu saja!"  Aku menjawab mantap, meski sebenarnya diliputi penasaran. Aku menerka arah pembicaraan kami.

"Setelah PPL di sini, mereka mengajar di mana lagi, bu?"

"Mereka kembali ke kampus untuk menyelesaikan kuliahnya."

"Berarti mereka belum menjadi guru dong, bu." Aku tersenyum mendengar jawabannya. Bel pergantian jam pelajaran belum juga berbunyi. Siswa-siswi lain masih asik memainkan dasinya. Maksudku, mereka bermain tembak-tembak dasi, ini serupa bermain ketapel dengan menggunakan dasi. Cukup riuh. Kuberi sedikit jenak untuk menjawab pertanyaan siswaku tadi.

"Selama di sekolah, mahasiswa PPL bikin apa saja?" tanyaku. Ia sedikit heran, lalu berupaya menjelaskan.

"Yah, mengajar, bu. Mereka menjelaskan seperti materi pelajaran, memberi tugas, memberi PR, mengabsen, menilai, ulangan, dan kadang-kadang bercanda"

"Apa bedanya sama ibu?"

Mmm... Dia mulai terdiam, barangkali sedang memikirkan perkataanku.

"Mereka PPL, secara status mereka masih mahasiswa. Setelah praktik, mereka kembali ke kampus untuk menyelesaikan tugas mereka yang lain sebelum akhirnya wisuda. Seperti kalian, mereka juga diberi nilai saat PPL. Seperti ibu, mereka memberi kalian penilaian. Mereka juga guru, karena sudah mau berbagi ilmunya. Bagi ibu, setiap orang yang mau berbagi ilmu, pengalaman, dan pengetahuan baru adalah guru; orang tua, teman, sahabat, musuh, mantan kekasih, bahkan kalian." Ekspresinya mulai berubah. Beberapa siswa lain ikut menjadi pendengar.

"Kenapa ada mantan kekasih, bu? Hahaha..." tawa seorang siswa lepas. Menjelaskan hal yang cukup berat kepada siswa yang masih dalam pencarian jati dirinya tak boleh terlalu serius, pikirku. Mereka akan bosan dan hanya pura-pura mengerti.

" Ya, iya. Dari mantan kekasih kalian belajar caranya "move on" setelah kehilangan. Kalian mulai belajar melihat lebarnya dunia -yang selama ini kalian pikir milik berdua-, lalu kalian belajar untuk membuat tempat baru untuk orang yang lebih siap menempatinya."

"Ikkhh, i agree, bu. Kita memang harus move on dari rasa patah hati." kali ini, salah seorang siswiku yang ikut menyahut. Aku merasa, poin penting yang ia tangkap hanya perihal jatuh cinta dan patah hati saja. Dasarrr, bocahh! (Gumam hatiku).

"Apa cita-citamu, nak? Maksud ibu, kau ingin jadi apa nantinya?" Ia kembali diam. Memberi jenak sebelum akhirnya menjawab "tidak tahu".

"Pikirkan, kau ingin menjadi apa kelak. Ingat, rumah yang kokoh dimulai dari pondasi yang kuat. Kau masih muda, masih punya waktu untuk berpikir matang atas masa depanmu kelak. Bangun pondasimu pelan-pelan, agar kelak kau tak kewalahan saat membangun rumah cita-citamu." Sontak mereka diam, dari ekspresinya seperti sedang berpikir berat. Aku diam, dalam hati tersenyum.

"Bu, aku mau menjadi guru."

Aku tersenyum beriring bunyi bel pertanda pergantian pelajaran. Sekitar tujuh tahun lalu, di bangku putih abu-abu yang berbeda guruku berkata, kau punya bakat menjadi pendidik, nak..




Sabtu, 15 Oktober 2016

Pelajaran Rindu


"Percayalah rindu ini baik untuk kita"

Aku mulai berpikir, bahwa pelajaran terbaik dari rindu adalah membuatnya sedikit menunggu


; entah ---


 Hasil gambar untuk gambar senja


Template by:
Free Blog Templates