Minggu, 15 Mei 2016

BALASAN SURAT CINTA

Kepada, Gebyar Bahasa UNCP


Sebutlah saja itu sebuah surat cinta, meski tak kau sampul dengan amplop merah muda atau kau tulis di atas sebuah kertas bergambar hati. Saya akan berpura-pura sedang membacanya sembari meneguk segelas "green tea" hangat dan ditemani senja yang hendak benam. Lalu, saya akan menulis balasannya di malam hari, ketika "insomnia" dan perasaan rindu menggumpal karena menyadari kenangan selalu punya ruang tunggu dan waktu tak pernah menjadi penjagal yang tega memotong ingatan-ingatan yang manis dalam kepala kita. Semisal, pertemuan sederhana kita sore itu.

Terima kasih telah berbaik hati mengingatkan saya, jika masih ada utang pertemuan atas pertanyaan-pertanyaan yang belum sempat terjawab tuntas di hari itu. Maaf pula atas abainya beberapa pesan, yang sebenarnya sangat ingin saya balas dengan serius, tetapi karena minimnya saldo pulsa dan keletihan yang menjerat membuat saya memilih berutang jawaban. Terkadang, ada perasaan bersalah yang mengental ketika menyadari betapa sedikitnya isi kepala yang sanggup saya rangkum hari itu. Atau, betapa tidak bertanggung-jawabnya saya yang langsung kabur menuju perantauan baru. Namun begitulah, jauh hari sebelum saya menyepakati tawaran itu, sudah lebih dulu saya berdiskusi panjang dengan diri sendiri, memesan tiket, dan memupuk benih harapan atas sebuah mimpi baru yang cukup besar. Sehingga tak mungkin lagi memberi spasi, untuk menetap lebih lama atau berbagi lebih banyak. Semoga kalian percaya, jika mimpi yang besar tidak cukup hanya dengan usaha yang kecil.

Perihal keberadaan saya, sebenarnya ini bukan pertanyaan baru yang saya terima. Beberapa pekan lalu, seorang pria yang selalu membuat saya rindu dengan spontanitas idea-nya pun bertanya hal serupa. Saya tahu, beliau sangat "gemas" melihat betapa tidak produktifnya saya belakangan ini. Dibeberapa kesempatan, beliau tak tanggung-tanggung mengungkapkan rasa kehilangannya; karena tulisan saya yang tak ber-roh, atau karena ketegaan saya mengendapkan idea tanpa meluapkannya. Saya jelas menyadari hal itu, dan sebab itu pula saya bertekat menulis balasan surat cinta ini dengan sedikit lebih panjang. Semoga isinya tidak membosankan. Hehehe...

Senja baru saja betul-betul benam, saya masih menimbang apa lagi yang sebaiknya saya tulis agar surat ini tidak lebih mirip surat permohonan maaf ketimbang balasan surat cinta. Layaknya pecundang yang patah hati karena mendapati kekasihnya berselingkuh, saya betul-betul kehilangan banyak kata. Hanya berani memandangi setiap kenangan yang sempat beku menjadi foto-foto, dan menyembunyikan banyak rindu di sela-sela kehilangan. Tetapi bagaimanapun, ini adalah balasan surat cinta -untuk kekasih lama, yang padanya saya berutang banyak penjelasan dan pertemuan-, tentu saja saya harus membalasnya dengan perasaan yang lebih cinta.

Sejujurnya, saya tak bisa berjanji waktu, sebab barangkali saya akan menetap cukup lama di kota ini. Sekitar sebulan atau dua bulan lalu, sepulang dari Kediri, saya sempat berkunjung. Selain menjenguk nenek dan menuntaskan perkara almamater, saya beberapa kali mampir di rumah sederhana yang lebih akrab kita sapa sekretariat (saya lebih suka menyebutnya rumah). Sayangnya, saya jarang menemukan siapa-siapa. Kata salah seorang teman, baru saja ada pergantian kepala keluarga dan rumah kita butuh dipercantik, sebab itu tak ada keramaian selain suara para tetangga. Terkadang, untuk menjadi ramai memang kita butuh sedikit polesan. Sekali lagi, kunjungan saya yang sebentar membuahkan penyesalan. Selain karena gagal merasa masih mahasiswa, saya juga gagal menunaikan janji pertemuan dengan Uncle, seorang pria yang di kepalanya ditumbuhi berpuluh-puluh pohon idea dan semangat. Selain sebagai dosen, beliau sudah seperti kakak bagi saya (meski begitu, saya lebih suka menyapanya Uncle, biar beliau tidak selalu merasa masih muda). Hahaha... Meski tak sempat hadir, saya mendoakan semoga upaya menghidupkan budaya leterasi yang beliau rintis melahirkan generasi Chairil Anwar yang lebih produktif. Saya percaya, untuk setiap harapan-harapan yang baik, semesta akan turut membagikan restunya. Ya, semoga selekasnya kita kembali bersua. 

Entah, saya merasa semakin panjang surat ini saya tulis, semakin tidak romantis untuk dibaca di malam minggu. O, iya, saya menitip salam untuk penghuni rumah kita, semoga semakin rajin merawat kenangan di dalamnya. Percayalah, di sudut bumi mana pun saya nantinya, selalu ada bergelas-gelas rindu yang ingin saya teguk bersama kalian.



Sudut rindu, 2016

Liyana Zahirah






Template by:
Free Blog Templates