Selasa, 24 Januari 2017

CERITA HUJAN

; Sekolah


Hujan bertamu subuh sekali. Seperti seorang siswa yang bergegas menuju sekolah karena takut dihukum. Hujan, mungkin punya sekolah dan aturannya sendiri. Aku masih masih malas bergeser, meski ibu sudah berkali-kali mengetuk pintu kamar, mengingatkan kalau sebentar lagi pagi. Ada kewajiban yang harus kutunaikan pada Tuhan. Dan lagi, ini senin. Kendaraan akan padat merayap jika tak bergegas lebih cepat.

Aroma perkedel menusuk hidungku, perut yang sejak semalam tiba-tiba sakit seperti kegirangan. Ibu memang juru masak yang hebat. Ia tak pernah alpa membuat bekal sejak aku curhat sering lapar saat di sekolah karena tidak sarapan. Perutku memang selalu rewel, malas sekali diajak sarapan. Sebenarnya bukan hanya perutku yang rewel, tapi karena aku yang kurang gesit sehingga selalu tak sempat sarapan.

Seperti dugaanku, senin menjadi hari macet se-versiku. Belum lagi saat hujan dan banjir, jalanan menjadi semakin panjang. Genangan di mana-mana, kenangan berbaris di kepala. Hal yang tak kusukai dari macet seperti ini adalah bising suara klakso yang sengaja dilempar tanpa jeda. Seperti bunyi perut yang sengaja dibiarkan lapar. Pemiliknya yang tergesah mungkin belum sarapan juga.

Aku tipikal pengendara yang penyabar, atau mungkin pemalas. Bagiku, klakso itu seperti signal penting yang digunakan saat mendesak, semisal, sudah ngebut di bahu kiri jalan, lalu tiba-tiba pete-pete (yang tadinya di tengah jalan) langsung menyerongkan badan tanpa aba-aba karena lihat penumpang, dan kau akan celaka jika klaksonmu tak marah. Atau, hal-hal lainnya yang menurut versiku penting.

Sekolah masih cukup sepi saat aku tiba, padahal, aku terlambat seper-sekian menit. Barangkali karena hujan. Mungkin karena banyak yang malas. Aku menebak banyak kemungkinan. Siswa-siswiku (di tempat mengajarku) memang berbeda. Istimewa. Berasal dari berbagai lorong dengan ragam karakter. Aku mencintai mereka yang rumit. Mencintai bagaimana mereka kadang membuatku marah dan ketawa. Mencintai cara mereka menebak diamku Mencintai cara mereka membuatku berpikir lebih keras. Aku mencintai mereka, hampir mirip seperti mencintai kau.Rumit. Aku berpikir, kapan-kapan mungkin akan kuceritakan tentang siswaku secara lebih detail. 

Hasil gambar untuk gambar pagi

 

Minggu, 22 Januari 2017

CERITA HUJAN

 ; Mengunjungi Kenangan di Warung Kopi


Hujan telah reda, banjir beringsut surut. Rumahku memang rawan banjir, namun selepas hujan reda banjirnya akan susut. Jika saja kenangan seperti itu, barangkali setiap kehilangan tidak harus dirayakan dengan pil pahit, pikirku.

Meski begitu, di kepalaku hujan masih saja deras. Deadline tugas dan deadline yang sengaja kubuat menjadi tugas mendaras lebat. Aku akhirnya pamit keluar rumah, mencari warung kopi untuk berteduh. Mendekap di kamar hanya akan membuat rasa malas merayapiku. Aku hanya akan sibuk memondar-mandirkan jempolku; menjelajahi sosmed demi sosmed, yang entah sialan sekali karena tidak membuatku jenuh. Padahal yang muncul hanya itu-itu saja. 

Dulu, aku senang memantau sosmed. Senang sekali menanti pesan singkatmu mengomentari foto, atau status tak cukup penting yang sengaja kubuat. Aku juga senang ketika mendapati kau melakukan hal serupa. Kita seperti bersepakat, untuk saling berkabar lewat hal semacam itu. Menggelitik sekali, bukan? Barangkali begitulah cara kita memecah kecanggungan saat itu.

Aku memutuskan ke warkop yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah, aku malas berkendara sendiri. Biasanya, adik lelakiku akan menemaniku. Kami pecandu wi-fi, pecandu buku, juga sama suka menulis  (meski hal-hal yang kami tulis kerap berbeda). Sore tadi, ia kembali ke-rantauannya, ibu kota. Aku punya adik lelaki yang lain, hanya saja, ia tak begitu doyan berlama-lama di warung kopi. 

Aku selalu suka mengunjungi warung kopi. Kadang, warung kopi menjelma ruang tamu, di lain hari menjadi ruang tunggu, menjadi ruang kerja. Sekarang malah lebih sering menjadi ruang foto. Warung kopi semakin cantik, semakin ramai, dan semakin banyak saja. Bagaimana pun, aku suka berlama-lama di warung kopi. Aku suka mendapati banyak kenangan di warung kopi. Aku suka mendapati kita yang pernah bersama di warung kopi.

Malam mulai larut, kepalaku digenangi kenangan. Pengunjung warung kopi semakin ramai saja. Aku memilih memojok, menepi dari ramai biar tidak mencolok sedang sendiri. 

Selamat menunaikan ibadah nge-warkop! 
Jangan lupa PULANG.

^^


Hasil gambar untuk foto hujan dan warung kopi




Template by:
Free Blog Templates